Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini bertujuan untuk: mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi wanita menikah muda di Provinsi Jawa Barat, membuat model statistik wanita menikah muda dan menginterpretasikan model yang dihasilkan. Batasan menikah muda didasarkan pada pendapat Bogue (1969) yaitu pernikahan terjadi jika wanita tersebut berumur 19 tahun ke bawah. Metode analisis yang dipakai adalah analisis deskriptif dan analisis regresi logistik biner, dimana untuk mendapatkan taksiran parameternya digunakan metode Detects Outliers Using Weights (DOUW).
Sumber data yang digunakan adalah data hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) Tahun 2005 di Provinsi Jawa Barat. Variabel yang digunakan terdiri dari: Variabel Respon (Y) adalah Jenis Pernikahan dan Variabel Penjelas (Xi) adalah Agama (X1), Status Tempat Tinggal (X2), Status Bekerja (X3), Status Migran (X4), dan Lama Sekolah (X5).Dari hasil analisis deskriptif diperoleh bahwa menurut Sensus Penduduk tahun 1980 dan 1990, median umur kawin pertama di Jawa Barat sebesar 16.22 dan 16.93, sedangkan menurut SUPAS 1995 dan 2005 sebesar 17.00 dan 17.00. Walaupun terjadi peningkatan umur kawin pertama di Jawa Barat dari tahun 1980 hingga 2005, akan tetapi peningkatan yang terjadi masih tergolong rendah. Median umur kawin pertama terendah (16 tahun) terjadi di 3 kabupaten, yaitu: Kabupaten Sukabumi, Cianjur dan Indramayu. Sedangkan median umur kawin pertama tertinggi (20 tahun) terjadi di 4 kota, yaitu: Kota Bandung, Bekasi, Depok dan Cimahi.
Hasil analisis regresi logistik biner diperoleh taksiran parameter untuk masing-masing variabel penjelas adalah Bo=0.10830, B1=2.796836, B2=1.429871, B3= -0.12015, B4= 1.406145, dan B5= -0.44967. Dari taksiran parameter yang diperoleh dapat interpretasikan bahwa wanita yang beragama Islam memiliki kecenderungan menikah muda 16.39 kali dibandingkan dengan wanita yang beragama non-Islam. Wanita yang bertempat tinggal di perdesaan memiliki kecenderungan menikah muda 4.18 kali dibandingkan dengan wanita yang bertempat tinggal di perkotaan. Wanita yang tidak bekerja memiliki kecenderungan menikah muda 1.12 kalinya dibandingkan dengan wanita yang bekerja. Wanita yang berstatus migran memiliki kecenderungan menikah muda 4.08 kali dibandingkan dengan wanita yang non migran. Wanita yang lama sekolahnya 6 tahun memiliki kecenderungan menikah muda 0.16 kali dibandingkan dengan wanita yang lama pendidikannya 3 tahun.











