Rumah Tangga Miskin di Sukabumi

E-mail Cetak PDF
  • series_miskinSelama ini data kemiskinan sudah bisa dipublikasikan oleh BPS rutin tiap tahun. Angka kemiskinan tersebut merupakan hasil yang diolah dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) dan bersifat makro. Artinya angka tersebut hanya merupakan data agregat. Selain itu data tersebut hanya bisa menggambarkan kondisi sampai tingkat Kabupaten/kota saja karena masalah besaran sampel yang diambil dalam survei tersebut. Besar kecilnya jumlah rumah tangga miskin sangat dipengaruhi oleh Garis Kemiskinan (GK), karena rumah tangga miskin adalah rumah tangga yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah GK. Sebagai gambaran, GK untuk Kabupaten Sukabumi tahun 2008 sebesar Rp. 157.804 dan Tahun 2009 sebesar Rp. 174.793 sedangkan tahun 2010 sebesar Rp. 184.127 .Berikut adalah series jumlah rumah tangga miskin di Kabupaten Sukabumi dari tahun 2002 s.d. 2010

 

  • Tahun 2002 : 17,03 %
  • Tahun 2003 : 16,32 %
  • Tahun 2004 : 14,70 %
  • Tahun 2005 : 16,57 %
  • Tahun 2006 : 17,66 %
  • Tahun 2007 : 15,98 %
  • Tahun 2008 : 13,26 %
  • Tahun 2009 : 11,78 %
  • Tahun 2010 : 10,65 % (sebanyak 249.600 orang)

Penjelasan Teknis dan Sumber Data
a. Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Dengan pendekatan ini, dapat  dihitung Headcount Index, yaitu persentase penduduk miskin terhadap total penduduk.
b. Metode yang digunakan adalah menghitung Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari dua komponen yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan-Makanan (GKBM). Penghitungan Garis Kemiskinan dilakukan secara terpisah untuk daerah perkotaan dan perdesaan. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan.
c. Garis Kemiskinan Makanan (GKM) merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2.100 kilo kalori per kapita perhari. Paket komoditi kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi (padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur dan susu, sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, minyak dan lemak, dll).
d. Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM) adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Paket komoditi kebutuhan dasar non makanan diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di perdesaan.
e. Sumber data utama yang dipakai untuk menghitung tingkat kemiskinan adalah data SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional). Sebagai informasi tambahan, juga digunakan hasil survei SPKKD (Survei Paket Komoditi Kebutuhan Dasar), yang dipakai untuk memperkirakan proporsi dari pengeluaran masing-masing komoditi pokok bukan makanan.

Terakhir Diperbaharui ( Rabu, 02 Mei 2012 09:22 )  

Translate

Indonesian English French German Italian Russian Spanish
IMG_1471.jpg

Link Terkait

Stiatistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday113
mod_vvisit_counterYesterday303
mod_vvisit_counterLast month6564
mod_vvisit_counterAll days188227

online (20 minute ago): 11
Your IP: 38.107.179.240
,
Today: Mei 17, 2012